ALVIRA ROHMATUL ROSENDY - Tapak - Tapak Waktu (OSN 3.3)
👁️ dibaca
ALVIRA ROHMATUL ROSENDY
Tapak - Tapak Waktu
Di stasiun fajar, kita adalah karcis yang belum tercabik.
Menatap rel-rel sunyi yang membentang laksana janji.
Setiap langkah adalah kepulan asap yang mengeja:
“Ada yang berangkat, ada yang tertinggal dalam kabut.”
Kemudian, hidup adalah kereta yang tak pernah genap berhenti.
Hanya melambat di setiap peron yang berjeda.
Di sana, kita melepas rindu seperti muatan yang terlalu berat.
Mengambil bekal baru: cinta yang sesaat, luka yang mengering.
Terkadang, kita tersesat di terowongan kelam.
Di mana bayangan sendiri menjadi penumpang yang paling setia
Bisiknya, “Lanjuuuutkan…”
Dan kita pun menjadi pemberani tanpa tanda jasa.
Hingga di suatu senja, saat peluit panjang membelah diam.
Kita sadar perjalanan ini bukan tentang kota yang dituju.
Bukan tentang jarak yang terukur di peta.
Tapi tentang bagaimana langit dalam jendela
Selalu berubah warna.
Dan kita belajar menyayangi bahkan deru yang mengguncang.
Maka, biarkan semua ini berlalu seperti pepohonan di luar.
Yang diam-diam menghitung musim dengan rontoknya daun.
Kita hanyalah pengembara yang membawa satu tas kecil.
Di dalamnya, sebongkah hati, beberapa kenangan yang ringan,
Dan sepasang mata yang masih percaya.
Bahwa setiap rel pasti akan sampai pada bulan.
Blitar, 8 Januari 2026
.png)
Posting Komentar