Ali Ahmadi Nafi - Senggama Alam Akhir (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Senggama Alam Akhir
Aku lahir dari tanah yang retak oleh ejekan,
langkah kecilku sering tersandung kata hina.
Nama dipanggil bukan untuk dipeluk,
melainkan untuk dijatuhkan
di depan tawa yang tak pernah mengerti luka.
Hari-hari adalah batu,
dan aku belajar berjalan
dengan telapak yang berdarah
namun kepala menengadah.
Alam menjadi guru pertamaku,
angin mengajarkan sabar,
hujan menanamkan tabah,
matahari berbisik bahwa,
tak semua gelap ditakdirkan malam.
Aku tumbuh bersama waktu,
menyelesaikan sekolah
bukan sebagai pelarian,
melainkan perlawanan sunyi.
Setiap buku adalah senjata,
setiap halaman adalah doa
agar hina tak diwariskan
kepada generasi berikutnya.
Di titik akhir perjalanan,
aku tak lagi berdiri sebagai anak yang direndahkan,
melainkan sebagai pendidik bangsa yang
menyemai akal,
menyalakan nurani.
Di sinilah senggama itu terjadi:
aku dan alam bersatu dalam tujuan,
pengalaman menyatu dengan harapan,
luka kawin dengan makna.
Dari rahim penderitaan
lahirlah pilar-pilar bangsa.
Bukan dari marmer kekuasaan,
melainkan dari jiwa
yang pernah diremehkan
namun memilih untuk membangun.
Payakumbuh, 20 Januari 2026
Posting Komentar