SALMA MAHARANI - Bumi Pertiwi (OSN 1.3)
Serupa Durma
Bambu runcing menemani di setiap luka
Ayat suci dilantunkan dengan khitmat
Bagaikan lautan penuh darah
Angin-angin menjadi saksi atas peperangan ini
Awan-awan tampak gemuruh petir yang menyambar, seakan-akan ikut merasakan kepedihan ini
Sudah tak terhitung kubik darah berjatuhan
Dari pukulan hingga tendangan
Dari luka belati hingga senapan
Tak ada dalam perang Mahabarata
Bahkan di sejarah dunia
Hanya di sejarah Indonesia
Hanya satu pilihan, merdeka atau mati di tangan penjajah
Mengalir air mata darah
Demi bumi ibu pertiwi
Semua itu pun membuahkan hasil
Yaitu sebuah nama Indonesia
Lambang Garuda, dasarnya Pancasila
Undang Undang 45
Merajut banyak peristiwa
Berusaha mengenang setiap luka
Pagi hari 17 Agustus 1945
Dengan bangga bung Karno membacakan sebuah teks yang membuat air mata bergejolak
Di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta
Dengan lantang dibaca “Proklamasi kami bangsa Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”
Lalu bersorak “Merdekaa”
Hembusan napas lega atas kemerdekaan bumi Pertiwi
Kini kita hanya berdiri hormat mengenang setiap kepedihan dan perjuangan lalu.
Kediri, 9 Mei 2023
8 komentar